Selamat Datang.......... Silahkan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِى وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا. وَالَّذِىْ جَعَلَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مُبَارَكَةً وَخَيْرَ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لِعِبَادِهِ الْمُخْلِصِيْنَ فِيْهَا.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Melalui mimbar jum`at yang mulia ini, saya selaku khatib mengajak kepada kita semua untuk berupaya semaksimal mungkin menjadikan diri kita selalu dekat kepada Allah SWT dengan selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dan amal shalih kita. Hal ini dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan jalan mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Salah satu kewajiban seorang hamba kepada Rabbnya adalah selalu berbaik sangka kepada-Nya.

Berbaik sangka kepada Allah adalah dalam segala hal, segala waktu dan segala keadaan. Jika seorang hamba berdoa dan merasa belum dikabulkan maka wajiblah dia menghilangkan perasaan bahwa Allah tidak mengasihinya dan tidak adil. Ini adalah salah satu contoh tidak berbaik sangka kepada Allah. Jika seorang hamba mendapat ujian atau cobaan, maka wajiblah baginya untuk tetap berbaik sangka kepada Allah.

Hadirin Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda; Dari Abu Hurairah bahwa saya mendengar Nabi bersabda dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “Ana ‘inda zhanni abdiibii” Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Menyimak hadits di atas menjelaskan bahwa Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya, maka Dia akan memperlakukan hamba-Nya seperti persangkaan hamba itu kepada-Nya, baik berupa kebaikan ataupun selainnya. Karena itu, Rasulullah SAW mengatakan; “Laa yamuutanna ahadukum illaa wa huwa yuhsinu billahizh zhann” (Janganlah salah seorang dari kalian mati, kecuali dia dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah (H.R Imam Muslim).

Memang terkadang kita mengeluh dan merasa berat dengan beban hidup yang kita pikul. Ibarat dua orang yang sedang berjalan di bawah terik sinar matahari sambil memikul tas berukuran besar yang memiliki muatan yang cukup berat, mereka berdua memiliki kecepatan yang sama dalam berjalan serta jarak yang sama pula yang harus mereka tempuh. Tapi mengapa salah satu dari kedua orang tersebut mampu menyelesaikan perjalanannya dengan mudah, sedangkan yang satu lagi malah terlihat berat dan penuh keluhan untuk menyelesaikannya?.

Ternyata orang yang dengan mudah menyelesaikan perjalanan tersebut tidak sepenuhnya terfokus pada tempat yang ia tuju, akan tetapi ia menyelingi perjalanannya dengan memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya, sehingga tanpa sadar ia sudah sampai di tempat tujuannya. Sedangkan orang yang merasa berat untuk menempuh perjalanan tersebut disebabkan karena ia terlalu fokus terhadap tujuannya, sampai pada saat kepenatan dalam pikirannya mulai muncul maka yang akan ia rasakan adalah bosan dan putus asa, dan akhirnya ia mulai merasa tidak sanggup untuk menyelesaikan perjalanan tersebut.

Begitu juga dengan hidup, ketika suatu ujian atau cobaan datang menghampiri hidup kita dan menguji keimanan kita, seharusnya kita masih mampu melihat sekeliling kita. Bahwa masih banyak orang yang memiliki beban hidup yang jauh lebih berat dari pada yang kita pikul, sehingga tanpa kita sadari beban yang kita rasakan akan jauh terasa ringan.

Pola pikir semacam itu akan memberi dampak bertambahnya rasa syukur kita kepada Allah SWT yang dengan itu perlahan-lahan pintu penyelesaian itu akan terbuka. Karena rasa syukur yang kita tanamkan pada diri kita sebenarnya adalah suatu sikap positif yang kita kirimkan kepada segala sesuatu yang ada di sekitar kita, sehingga dengan izin Allah semua yang ada di sekitar kita akan dirancang untuk mempermudah urusan kita.

Dan salah satu faktor yang mendorong timbulnya rasa syukur kita pada Allah adalah berbaik sangka atau husnudzan terhadap ketentuan Allah. Karena dengan hal itulah kita dapat berfikir bahwasanya dibalik semua permasalahan yang Allah berikan kepada kita, ada sebuah hikmah yang ingin Allah tampakkan dihadapan kita.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Dalam hal ini menarik ulasan KH. Sholeh Darat dalam Syarah al-Hikam (2016: 70-72), yang mengatakan bahwa berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah terbagi dua macam. Pertama, husnudzan orang khash, yaitu melihat sifat-sifat Allah yang mulia karena sifat-Nya yang belas kasih terhadap hamba-hamba-Nya, Maha Memberi dan sifat-sifat mulia lainnya. Maka segala sesuatu yang menimpanya, seperti kesulitan rezeki, sakit, fakir dan sebagainya, kesemuanya menjadikannya tetap berbaik sangka pada Allah SWT karena Allah bersifat belas kasih. Hal ini akan menimbulkan rasa cinta kepada Allah dan mucunlnya sifat tawakkal kepada-Nya.

Kedua, husnudzan orang awwam, yaitu mereka melihat pada kenikmatan yang telah Allah anugerahkan pada mereka. Hal ini akan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah dan rindu bertemu dengan rahmat Allah. Karenanya, Syekh Ibnu ‘Atha’illah berkata; “Sungguh mengherankan, orang yang lari dari apa yang dia tidak bisa terlepas darinya”. Artinya, sangat naif bila manusia mengumbar syahwat, memperturutkan kenikmatan duniawi dan membelakangi kenikmatan ukhrawi, dengan berburuk sangka pada Allah SWT.

Hadirin Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Lantas, mengapa kita harus berbaik sangka pada Allah? Terdapat beberapa alasan. Pertama, prasangka kita pada Allah dampaknya kembali pada diri kita sendiri. Sebagai contoh, seseorang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), jika ia berprasangka baik pada Allah, sikapnya akan memancarkan optimisme, “Alhamdulillah saya di-PHK, pasti Allah ingin memberikan pekerjaan yang lebih baik pada saya”. Akan tetapi seseorang yang tidak mampu berprasangka baik, ia akan mencoba mencari kambing hitam untuk melampiaskan prasangka buruknya pada pihak lain. “Perusahaan dzalim! Saya sudah bekerja yang terbaik kok malah dipecat. Memang HRD nya tidak becus!”. Atau bahkan yang terburuk, manusia yang penuh prasangka negatif ini akan turut menyalahkan Allah. “Allah ini bagaimana … Sudah tahu saya sedang butuh uang, kok saya malah dibiarkan dikeluarkan dari perusahaan!”
Ketika ia mampu berprasangka baik, optimisme terpancar, maka Allah benar-benar akan memberikannya pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Mudah bagi Allah melakukan hal ini. Sedangkan ketika seseorang berprasangka buruk, pesimisme dan depresi akan melanda dirinya, dan Allah akan kabulkan prasangka buruknya tersebut dengan membiarkannya terus berada dalam kubangan emosi negatif, hingga ia sendiri yang mau mengubah nasibnya tersebut.

Kedua, prasangka baik pada Allah merupakan salah satu ibadah yang terbaik. “Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah” (HR. Abu Daud). Apa gunanya shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, berkurban, berwakaf, bersedekah, akan tetapi ketika ditimpa kesusahan lalu berkata, “Allah tidak adil, saya sudah melakukan banyak kebaikan, mengapa Allah memberikan kejadian buruk ini pada hidup saya?” Bagaimana mungkin Allah berbuat tidak adil pada hamba-Nya, sedangkan Allah tak memiliki keperluan apapun dari hamba-hambaNya? Sungguh merugi orang yang tak mampu berprasangka baik pada Allah dan ketetapan-Nya.

Ketiga, apa yang kita kira baik, sebenarnya belum tentu baik untuk kita, Allah yang lebih tahu. Kita ini bukan Tuhan yang bisa tahu masa depan, maka jangan merasa diri serba tahu apa yang terbaik untuk diri kita! Itulah sebabnya kita perlu selalu berprasangka baik pada Allah, karena memang apa yang terjadi pada hidup kita, sebenarnya selalu ada hikmah di baliknya. “Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216).

Kelima, janganlah kita mati kecuali dalam kondisi berprasangka baik pada Allah. Ini adalah pesan baginda Rasulullah SAW yang amat mencintai umatnya. “Janganlah salah satu di antara kalian mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik terhadap Allah.” (H.R. Muslim)
Maka, semoga kita mampu menjadi mukmin sejati, yang bisa selalu berprasangka baik pada Allah, bahkan dalam kondisi yang terlihat buruk sekalipun.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistics Visitors
  • Today Visit: 13
  • Yesterday Visit: 13
  • Week Visit: 201
  • Total Visit: 139,258

Copyright © 2015. All Rights Reserved.

Alamat: Jln. Tanjung Api-api Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Sukarami Palembang. | Login Admin