Selamat Datang.......... Silahkan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِى وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا. وَالَّذِىْ جَعَلَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مُبَارَكَةً وَخَيْرَ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لِعِبَادِهِ الْمُخْلِصِيْنَ فِيْهَا.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan semua makhluk-Nya, dan kita saat ini masih diberikan waktu untuk hidup dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kesempatan yang berharga ini jangan disia-siakan, karena jika tidak, maka penyesalan yang diperoleh. Melalui mimbar yang mulia ini, marilah kita mempersiapkan diri sebelum kematian itu datang yang waktu dan tempatnya tidak ada seorang-pun dapat mengetahuinya. Yang terpenting adalah meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dengan melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi semua larangan Allah SWT. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW yang telah memberikan contoh terbaik dalam menjalani hidup dan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Demikian pula kepada keluarga, sahabat-nya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk beliau. Semoga kelak, atas izin Allah kita mendapatkan syafaatnya. Amin.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan meninggalkan kehidupan yang fana ini, dan selanjutnya akan memasuki kehidupan yang kekal lagi abadi. Kita semua meyakini bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, betapa-pun banyaknya harta yang ada pada kita, keluarga besar yang dimiliki, luasnya tanah yang dibanggakan, serta segala hal lain yang membuat diri kita merasa senang, hanyalah titipan dan sementara adanya. Kita senantiasa diingatkan agar melihat dan memperhatikan kehidupan yang akan datang serta mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS al-Hasyr: 18)

Ayat di atas mengajak kita untuk melihat masa depan, yaitu kehidupan akhirat dengan tetap menjaga iman dan ketaatan kepada Allah serta bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Antara lain memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin, karena sadar atau tidak waktu terus berjalan dan usia terus akan berkurang. Untuk itu, ini adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita dengan mensyukuri serta mempersiapkan bekal hari esok dengan amal kebaikan. Bila tidak, bisa jadi kita terus-menerus terpesona dan terpedaya dengan kemegahan dunia sehingga melalaikan kita dari mengingat Allah SWT

Jama’ah jum’at yang berbahagia

Kematian seringkali dianggap sesuatu yang menakutkan, padahal yakin atau tidak, hal itu merupakan kepastian dan akan dialami oleh semua yang hidup. Ia akan mendatangi setiap yang bernyawa tanpa membedakan usia, kedudukan, dan status sosial lainnya. Kemudian akan dikembalikan kepada yang memiliki kehidupan, Maha Mengetahui atas apa yang kita perbuat. Banyak orang yang meninggal dalam usia muda, ada yang meninggal dalam keadaan sedang beribadah kepada Allah, bahkan ada pula yang wafat ketika bermaksiat kepada Allah. Nauzubillah

Meskipun kematian adalah persoalan yang mutlak, namun masih saja ada yang belum mempersiapkan diri dalam menghadapinya, bahkan justru membiarkan diri mereka terlena dengan kemegahan dunia sehingga lupa akan kematian. Sedangkan bagi seorang mukmin, kematian merupakan peringatan bahwa kehidupan di dunia tidak akan pernah berlangsung lama, sehingga memotivasi dirinya agar terus berbuat baik. “Yang menjadikan mati dan hidup, untu menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Mulia lagi Maha Pengampun” (QS al-Mulk:2)

Berdasarkan ayat tersebut, Allah menghidupkan dan mematikan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Keduanya bertujuan untuk menguji di antara hamba-Nya, apakah dengan kehidupan akan bertambah amal kebaikan ataukah justru terlena dengan perbuatan yang jelek. Kehidupan seharusnya menjadi media bagi kita untuk lebih banyak berbenah diri, yaitu dengan meningkatkan kedekatan kita kepada Allah, bertambahnya intensitas ibadah kita kepada-Nya. Dengan bertambahnya usia kita dalam menjalani kehidupan ini, berarti semakin dekat batas akhir dari kehidupan ini. Apa saja yang dilakukan selama di kehidupan dunia akan dipertanggungjawabkan pada kehidupan akhirat.

Kehidupan yang kita jalani di dunia, tidak membuat kita terpedaya dengan hingar-bingar, kemegahan di dalamnya. Karena, kehidupan dunia diibaratkan seperti permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Artinya, jika kehidupan dunia menjadi tujuan akhir dari hidup ini, maka bersiaplah untuk kecewa, tetapi jika kehidupan akhirat lebih diutamakan sebagai tujuan akhir, maka itu lebih baik. Hal ini diingatkan Allah dalam QS al-An’am ayat 32 berikut ini.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُون

“Dan ketahuilah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka apakah tidak kalian memahaminya?” (QS al-An’am: 32)

Kematian adalah pintu gerbang seorang hamba untuk kembali bertemu dengan Allah Ta’ala. Dengan ini, manusia memasuki alam barzakh sebagai tahapan sela antara kehidupan dunia dan hari akhirat. Bila selama hidup di dunia, lebih banyak berbuat baik, maka jiwa akan menjadi tenteram, namun jika selama hidup di dunia, perbuatan jahat lebih banyak, maka jiwa akan menjadi tersiksa.

Di banding kehidupan akhirat, memang kehidupan dunia sangat sebentar. Hanya sekedar persinggahan, untuk berbekal menuju kehidupan akhirat yang tak ada batasnya. Namun, bukan berarti hidup di dunia tak ada artinya. Justeru dengan waktu yang singkat itu, kehidupan di dunia menjadi sangat mahal dan bernilai. Sebab di sanalah, setiap orang harus mempersiapkan bekal maksimal untuk kepentingan abadinya di akhirat. Dan ini artinya, dunia dan akhirat tidak dapat dipisahkan apalagi saling menafikan.

Hadirin Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Banyak cara yang Allah lakukan untuk mengingatkan kita tentang kematian dan bagaimana menahan rasa sakit ketika menghadapi kematian. Berbagai peristiwa yang dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia, seperti musibah banjir bandang, tanah longsor di beberapa wilayah, gempa bumi dan sebagainya yang telah meluluh-lantahkan bangunan, menghancurkan areal pertanian dan perkebunan, fasilitas umum, bahkan telah menewaskan sejumlah orang. Kondisi tersebut seharusnya menyadarkan dan membuka mata batin kita, bahwa jika Allah menghendaki sesuatu, maka cukup bagi-Nya mengatakan kun fayakun.

Dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan, dari musim tanam ke musim panen merupakan bukti adanya Tuhan yang menciptakan dan yang mematikan. Ini dapat dirasakan bagi mereka yang mempergunakan akalnya untuk berfikir dan hatinya untuk berzikir atas ini semua. Kita diperintahkan berzikir dalam keadaan bagaimanapun, bahwasanya Allah tidak menciptakan sesuatu dengan kesia-siaan, namun sebagai sarana bagi kita untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirmah; “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau di dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata; Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari sisa neraka. (QS Ali Imran:191)

Mengingat Allah dapat dilakukan dalam kondisi duduk, berjalan atau dalam keadaan berbaring. Sebagaimana kita diingatkan untuk bekerja dan berusaha demi kehidupan dunia seolah-olah kita akan hidup selamanya, dan berbuat untuk akhirat, seakan-akan kita mati esok. Hal ini mendorong kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam berkarya, baik yang berkenaan dengan keduniaan dan aspek keakhiratan.

Perjalanan hidup mengejar kebahagiaan di dunia dengan segala suka atau dukanya, sedih dan gembiranya, sengsaranya maupun bahagianya, tak jarang melenakan. Kita terkadang lupa bahwa disela keinginannya yang panjang itu terselip detik-detik kematiannya. Seringkali manusia terpedaya, seakan hari-harinya makin sangat panjang. Padahal akan ada ajal yang memenggal segala keinginan dan mimpi-mimpi itu. Karenanya, Rasulullah mengistilahkan kematian dengan pemupus kenikmatan. “Perbanyaklah mengingat-ingat pemupus kenikmatan, yaitu kematian. (HR Tirmidzi).

Menurut Imam Qurthubi yang dikutip dari KH. Sholeh Darat dalam Syarah al-Hikam (2016: 124-125), dinyatakan bahwa dengan memperbanyak mengingat kematian, maka Allah akan memberikan tiga kemuliaan. Pertama, segera bertaubat; kedua, nafsunya rela menerima dengan apa yang sudah ditentukan oleh Allah; dan ketiga, bersemangat dala melaksanakan ibadah. Sebaliknya, bila manusia lupa mengingat kematian, maka akan disiksa dengan tigal hal, yaitu, pertama, menunda-nunda taubat; kedua, nafsunya tidak merasa cukup dengan pemberian Allah; dan ketiga, malas dalam beribadah.

Dengan mengingat kematian, menuntut kita untuk selalu waspada dan mengumpulkan bekal, yaitu amal saleh. Karena bila kematian datang memutuskan nafas-nafas, tidak akan membuat kita terguncang, dan tercengang. Bila kita telah beramal dengan tulus dan ikhlas, maka tidak akan merasa khawatir, karena semua perbekalan telah dipersiapkan jauh-jauh hari.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah

Perbekalan melakukan perjuangan dan pengorbanan mencapai kebahagiaan akhirat memang harus ditebus dengan upaya yang keras saat hidup di dunia. Tetapi, itupun tidak menghilangkan keseimbangan untuk tetap berperan dalam kehidupan. Perhatikan nasehat Abu Dzar al-Ghifari ra saat berdiri di samping Ka’bah, Abu Dzar antara lain mengatakan, “Jadikanlah dunia ini memiliki dua majelis. Majelis untuk mengejar kehidupan akhirat dan majelis mencapai rezeki yang halal.. Jadikanlah hartamu dua dirham. Satu dirham untuk kebutuhan keluargamu dan satu dirham lagi engkau gunakan untuk kehidupan akhirat.

Islam mengajarkan kepada kita tentang keseimbangan dalam hidup. Tidak terlalu mencintai dunia, akhirat dilupakan atau mencintai akhirat, tetapi kehidupan dunia ditinggalkan. Islam menyatakan bahwa kehidupan merupakan kesempatan emas bagi kita mempersiapkan dan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang abadi. Bersyukur atas rahmat Allah yang masih memberikan waktu untuk dapat berbuat dan berkarya,karena tidak ada yang mampu untuk memastikan akhir dari perjalanan hidup kita ini.

Ketidaktahuan kita tentang kapan datangnya kematian, menuntut persiapan yang besar dari diri kita untuk membawa bekal amal kebaikan yang banyak pula. Bukan dengan kealfaan tentang mati, justru melalaikan kita dengan kenikmatan dunia sesaat. Untuk tujuan itu, Islam mengajarkan kepada kita membiasakan diri untuk memperbanyak infak dan sadaqah, sebagaimana firman Allah yang artinya ;
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS Ali Imran:92)

Pada ayat di atas, Allah nyatakan bahwa kita tidak dapat memperoleh kebaikan yang sesungguhnya, sebelum kita menafkahkan harta, betapapun kita mencintainya. Memberikan sesuatu yang berharga, tentu teramat berat untuk dilakukan. Namun, tidak bagi orang yang beriman, karena apapun yang mereka miliki tidak sepenuhnya berbuah baik, bahan terkadang dapat mendatangkan fitnah dan ujian.

Hal senada juga telah Allah jelaskan bahwa sebelum kematian itu datang kepada setiap orang, maka hendaklah bersegera dan berlomba-lomba dalam kebajikan, yaitu dengan memperbanyak infak dan shadaqah atas harta yang kita miliki, sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh. (QS al-Munafiqun:10)

Mendermakan sebagian dari apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita berupa kekayaan alam, hasil pertanian yang menyenangkan hati sebelum semuanya diambil kembali oleh Allah. Dari keterangan ayat ini, semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang menyesal sebelum kematian menjemput, karena terlalu mencintai harta yang dititipkan Allah sehingga melupakan dan melalaikan kita untuk menginfakkan sebagian dari harta tersebut untuk kemaslahatan orang lain.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistics Visitors
  • Today Visit: 13
  • Yesterday Visit: 13
  • Week Visit: 201
  • Total Visit: 139,258

Copyright © 2015. All Rights Reserved.

Alamat: Jln. Tanjung Api-api Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Sukarami Palembang. | Login Admin