Selamat Datang.......... Silahkan

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِى وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا. وَالَّذِىْ جَعَلَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مُبَارَكَةً وَخَيْرَ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ لِعِبَادِهِ الْمُخْلِصِيْنَ فِيْهَا.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.أَمَّابَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ. اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Melalui mimbar jum`at yang mulia ini, saya selaku khatib mengajak kepada kita semua untuk berupaya semaksimal mungkin menjadikan diri kita selalu dekat kepada Allah SWT dengan selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah dan amal shalih kita. Hal ini dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan jalan mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hadirin Muslimin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah
Sungguh indah bait-bait lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an berikut;

“Jikalah sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah) pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi…” (Al-A’raf :96).

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (At-Tholaq: 3)

Kutipan ayat al-Qur’an di atas harapan jutaan umat manusia yang berujung pada jalan kemuliaan. Sebuah ikhtiar demi terasanya kehidupan yang lebih baik. Mapan dalam papan, tentram bersama harta dalam genggam dan tercukupi diri terhadap segala hal yang diingini. Harapan akan kenyamanan hidup yang beriringan dengan senyuman, kehangatan dan kebersamaan. Buah dari keindahan yang bermakna kebahagiaan. Sebuah sensasi yang umumnya kita biasa menyebut dengan rezeki, yang nilai kausalitas penyetaraanya umumnya berbanding lurus dengan kemapanan. Meskipun hal tersebut tidak selamanya benar, namun, seiya sekata kompak umumnya hasrat hati akan bertuju dan bererat pada nilai-nilai yang bersifat materi. Salah satu sifat dasar manusiawi yang cinta pada kehidupan duniawi.
Gaji tinggi, pangkat kedudukan tinggi, rumah mewah serta terlihat elok dengan harta melimpah. Sanjungan pun akan mengalir padanya dengan titel sebutan “banyak rezeki”. Kendaraan terbaik, peralatan elektronik ter-update, pakaian terbaik, emas, perak, permata dan keindahan lain yang padanya melekat, menjadikan empunya bertitel “banyak rezeki” sebagai predikat.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah

Apapun itu, selama keindahan duniawi bersanding dengan seseorang, fatamorgana kebahagiaan dari lapis nilai dengan diksi “banyak rezeki” umumnya akan sejajar serata beriringan penuh pencitraan. Meski terkadang dalam kenyataan, ada kerat hitam melekat yang tak nampak oleh fatamogana tersebut. Karena tak selamanya melimpahnya harta, justru berbanding lurus dengan melimpahnya kebahagiaan.

Dalam bahagianya hasil harta, ada syarat mengikat yang tak boleh lepas dari padanya. Ia yang akan menjadi penyangga, ia yang akan menggenggam lagi diutamakan dan ia yang mestinya menjadi pengiring kala titel kemuliaan berpadu bersamanya. Ia adalah barokah. Nilai erat penuh sanjung dari yang Dzat Maha Memberi, yang bisa turun dengan amat deras dari langit ataupun muncul dengan sangat banyak dari bumi. Ziyadatulkhair, bertambahnya kebaikan meski kadang hal tersebut berasal dari sesuatu hal yang sifatnya amat sederhana.

Sungguh kebaikan harta tidak selamanya berasal dari ukuran materi semata. Indikasi umum nilai pasti dari sebuah rezeki. Rupiah, dolar, banyaknya mobil yang dimiliki, rumah yang ditempati atau bahkan pesawat pribadi yang ditumpangi. Hakikat sebuah rezeki, tidak bisa diukur sekadar melalui tataran duniawi yang kasat mata saja. Ia jauh lebih besar daripada itu.

Apapun macamnya, manakala berkah menghampiri harta maka nilai kebaikanlah yang akan nampak dari padanya. Boleh jadi sedikit, namun jika ia membuat Rabb-Nya ridha, membuat keluarga yang dinafkahi melaluinya bahagia dan membuat sekitarnyapun merasakan kebahagiaan yang sama, maka predikat rezeki berkah seperti itulah yang akan disandangkan pada harta yang demikian. Tapi sebaliknya, jika harta banyak, namun membuat Rabb-Nya murka, diri semakin congkak, keluarga jauh dari kesan sakinah, masyarakatpun merasa terancam dengan kehadirannya, boleh jadi pertanda “banyak harta” menyanding, namun tidak banyak berkah yang berpadu padanya. Alangkah menderitanya hidup seseorang dengan harta yang banyak tersebut. Melimpah ruahnya harta tak membuatnya semakin tunduk pada Dzat yang Maha Memiliki

Inilah yang pernah disitir oleh KH. Sholeh Darat dalam Syarah al-Hikam (2016: 183) bahwa kesempurnaan hidup manusia bila Allah SWT memberikan rezeki yang cukup dan mencegahmu dari sifat lupa pada Allah SWT. Mengutip sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda; “Rezeki sedikit yang cukup itu lebih baik daripada rezeki banyak yang menjadikan lupa kepada Allah dan melupakan kematian” (KH. Sholeh Darat dalam Syarah al-Hikam (2016: 183).

Ini menginsyaratkan bukanlah kuantitas kekayaan yang menjadi barometer utamanya, tetapi kualitas, dalam arti, rezeki yang barokah. Lantas, bagaimana tanda-tanda rezeki yang berkah? Berikut ini beberapa di antaranya:

Pertama, jiwa terasa tenang, dan hati mampu mendekat pada Allah. Rezeki yang berkah akan membawa ketenangan dalam jiwa, sedangkan rezeki yang tidak berkah akan menghadirkan was-was. “Tidak sama yang buruk (rezeki yang haram) dengan yang baik (rezeki yang halal) meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. Al Maidah: 100).

Kedua, rezeki bisa bermanfaat untuk banyak orang. Meski sedikit, rezeki yang berkah biasanya dapat memberi manfaat untuk banyak orang.

Ketiga, mudah memberi sedekah dan menunaikan zakat. Muda dalam mengeluarkan zakat, serta merasa senang memberi shadaqoh baik untuk keluarga, kerabat yang memerlukan, ataupun fakir miskin, juga merupakan salah satu ciri keberkahan rezeki. Tentu saja segala sesuatu tergantung niatnya. Jika hanya diniatkan untuk pencitraan, atau untuk menutupi rasa bersalah telah menerima harta haram, maka sama saja dengan membohongi diri sendiri.

Keempat, keluarga harmonis dan dikaruniai anak yang shaleh dan shalehah dari Allah. Anak-anak yang taat pada Allah, menyejukkan pandangan mata dan hati orangtua, serta memberi ketenangan.

Kelima, senantiasa merasa cukup dan syukur. Orang yang rezekinya berkah akan merasa bersyukur dan selalu cukup. Sedangkan orang yang rezekinya tidak berkah akan selalu merasa haus, kurang, karena sifat tamak yang dimiliki. Berapa banyaknya uang atau harta yang ia miliki, tidak berhasil memuaskan hatinya. Inilah adzab yang sebenarnya.
Semoga kita senantiasa dijaga Allah dari rezeki haram, dan selalu dikaruniai rezeki halal dan barokah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistics Visitors
  • Today Visit: 0
  • Yesterday Visit: 28
  • Week Visit: 214
  • Total Visit: 139,232

Copyright © 2015. All Rights Reserved.

Alamat: Jln. Tanjung Api-api Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Sukarami Palembang. | Login Admin