Selamat Datang.......... Silahkan

Sebenarnya apabila kita renungkan dan kita cermati, setiap perintah agama yang berupa ibadah mengandung hikmah atau manfaat dari dua segi, yaitu ruhani (jiwa) dan jasmani (fisik). Kesehatan ruhani dan jasmani merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Tanpa kedua kesehatan tersebut, sangat sulit bagi  manusia untuk eksis hidup di dunia.

Pada masanya, Rasulullah SAW tidak pernah mengadakan penelitian untuk membuktikan bahwa ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT dan dilaksanakan sepanjang waktu dapat membuat manusia sehat secara ruhani maupun jasmani. Kendati demikian, Rasulullah SAW dengan tegas memerintahkan kepada umatnya untuk beribadah supaya memperoleh kesehatan ruhani dan jasmani.

Walaupun tanpa mengadakan uji coba terlebih dulu terhadap beberapa sahabatnya yang melakukan puasa, Rasulullah SAW sangat yakin bahwa puasa mengandung manfaat bagi kesehatan, seperti yang terkandung dalam sabdanya; “Berpuasalah agar kamu sehat” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu’aim).

Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Bani Israil (dengan firman-Nya), “Umumkanlah kepada kaummu bahwa seorang hamba tidak berpuasa sehari demi semata-mata mendapatkan keridhaan-Ku kecuali Aku akan memberinya kesehatan fisik dan memberinya pahala yang amat besar (HR.Baihaqi).

Tegasnya, Rasulullah SAW memerintahkan berpuasa bukan karena mengacu pada hasil penelitian yang membuktikan bahwa seseorang yang berpuasa itu sehat. Namun, beliau langsung mendapatkan perintah atau kabar dari Allah SWT bahwa seseorang yang melakukan ibadah puasa  akan memperoleh kesehatan fisik dan pahala yang besar.

Pada masa Rasulullah para sahabat juga tidak mengadakan penelitian guna membuktikan sabda beliau tentang manfaat puasa bagi kesehatan. Mereka langsung mempraktikkan sabda beliau atau mengadakan penelitian terhadap diri mereka sendiri demi membuktikan bahwa puasa itu menyehatkan.

Namun, yang paling penting diketahui adalah Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menjalankan ibadah puasa semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT. Sedangkan, kesehatan yang mereka peroleh dari berpuasa adalah dampak positif yang tidak perlu menyita perhatian mereka. Sebab, yang jelas, ada banyak jalan yang bisa ditempuh agar bisa hidup sehat, tetapi guna mendapat keridhaan-Nya, tidak ada jalan lain kecuali dengan beribadah secara ikhlas kepada-Nya.

Jadi, seseorang yang melakukan ibadah puasa tidak perlu diniatkan untuk meraih kesehatan fisik, tetapi cukup diniatkan adalah mencari keridhaan Allah SWT atau beribadah kepada-Nya semata. Sebab, sebagaimana yang termaktub dalam hadits di atas adalah Dia akan memberi kesehatan fisik kepada hamba-Nya yang berpuasa setelah mereka menjalankan puasa dengan semata-mata mengiklhaskan untuk berharap keridhaaan-Nya.

Dengan kata lain, seseorang yang berpuasa akan meraih kesehatan dengan sendirinya, walaupun tanpa diniatkan untuk meraihnya, yaitu ketika menjalankan puasa dengan ikhlas karena Allah SWT. Rasulullah SAW bersama para sahabat rajin berpuasa, sehingga mereka pandai mengatur pola makan, sebagaimana perintah Rasulullah SAW di mana beliau memerintahkan kepada para sahabat agar tidak makan jika tidak merasa lapar. Tatkala berbukapun mereka tidak langsung mengisi perutnya sampai kekenyangan atau melebihi kapasitas perutnya.

Saat Raja Mesir, Muqauqis, mengutus tabibnya kepada Rasulullah SAW sebagai tanda hormat kepada beliau dan solidaritas serta mengobati masyarakat Madinah yang berada dibawah naungan beliau, sang tabib merasa heran. Sebab setelah dirinya tinggal beberapa saat di Madinah, tak satupun masyarakat Madinah yang datang berobat kepadanya.

Tentu saja, hal tersebut terjadi bukan karena masyarakat Madinah tidak punya uang untuk berobat karena berobat kepada sang tabib digratiskan. Bukan karena mereka membenci kepada sang tabib, hal tersebut terjadi karena masyarakat Madinah dibawah naungan beliau jarang ada yang sakit. Kondisi tubuh mereka yang sehat membuat sang tabib kagum dan ingin mengetahui resep tata kehidupan mereka dalam menjaga kesehatan tubuhnya.

Sebelum meninggalkan kota Madinah sang tabib menemui Rasulullah SAW guna mengungkapkan kekagumannya dan bertanya:” Tuan, izinkan saya mengetahui rahasia apa yang menyebabkan tidak seorangpun penduduk Madinah yang mengeluhkan sakit kepada saya?”

Rasulullah SAW menjawab dengan sederhana, namun mengesankan, sehingga mudah untuk diingat, “Kami merupakan kaum yang tidak makan sampai kami merasa lapar. Dan bila  makan  kami tidak sampai kenyang” (HR. Abu Daud). Artinya, Rasulullah SAW dan para sahabatnya pandai mengelola waktu dan pola makan. Bagi mereka, selain bentuk ibadah, puasa juga merupakan sarana yang paling tepat untuk mengatur jadual dan pola makan agar dapat menyehatkan tubuh.

Statistics Visitors
  • Today Visit: 16
  • Yesterday Visit: 25
  • Week Visit: 180
  • Total Visit: 139,339

Copyright © 2015. All Rights Reserved.

Alamat: Jln. Tanjung Api-api Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Sukarami Palembang. | Login Admin